Jumat, 27 Juni 2008


Kemanakah air kita?
Oleh: Johnny Anwar ZS

BILA 2007 lalu tema peringatan Hari Air Sedunia mengangkat masalah kelangkaan air, maka pada tanggal 22 Maret 2008 Badan Perserikatan Bangsa-bangsa yang menangani program lingkungan hidup, United Nation Programmes (UNEP) mengintegrasikan peringatan ini dengan Tahun Internasional Sanitasi. Hal Ini diangkat untuk mengkritik kegagalan negara-negara di dunia dalam menyelesaikan kesenjangan political will mereka dalam menyediakan sanitasi yang baik bagi masyarakat. Ini dimaksudkan untuk memacu aksi dalam menangani krisis air yang mempengaruhi satu dari tiga orang di planet ini.

Setiap 20 detik, seorang anak mati akibat kondisi sanitasi yang bukan alang kepalang buruknya yang berlangsung lama “dinikmati” oleh 2,6 triliun orang dimuka bumi ini. Ini akan menambah banyak pemotongan kesempatan hidup 1,5 juta kamu belia di dunia karena kita tidak tahu atau tidak mau peduli untuk mencegahnya.

Sanitasi yang miskin bersama dengan kelangkaan air minum yang aman serta ketidakhigienan memberikan kontribusi yang sangat berarti terhadap kematian korban kematian global yang mengerikan. Mereka yang selamat menghadapi kesempatan hidup sehat dan produktif yang berkurang. Anak-anak, khususnya perempuan terpaksa harus keluar dari sekolah dan sementara karena berkaitan dengan higinitas terhadap penyakit, orang dewasa tidak dapat melakukan pekerjaan yang produktif.

Di Indonesia yang relatif kaya dengan sumber air juga tidak terhindar dengan krisis ini. Hal itu tidak hanya disebabkan oleh karena kita semua hanya memandang air sebagai fasilitas yang disediakan TUHAN semata, bukan sebagai bagian dari hidup kita, sehingga kita selalu beranggapan bahwa masalah ini lebih merupakan urusan TUHAN, bukan urusan manusia. Sungguh ironis cara pandang seperti ini, ketika kita justru dijadikan khalifah di muka bumi ini untuk menjaga segala milik TUHAN yang diamanahkan kepada kita sekalian.

Yang kita lakukan.selama ini, atas nama hidup kita sendiri,adalah mengharap daerah tangkapan air di hulu,menebang pepohonan,menutup daerah aliran dan resapan air baik untuk keperluan penambahan stok pangan,stok tempat tinggal,stok wilayah bisnis dan belanja,tempat wisata, keperluan penambangan.

Semua itu tidaklah dilarang oleh ALLAH AZZA WA JALLA karena memang ALLAH memberikan alam raya ini untuk kita manfaatkan dan kelola bagi kemaslahatan kita sendiri umat manusia.Namun untuk dapat menikmatinya dalam jangka waktu yang lama (sustainable) kita harus tahu cara mengelolanya.Inilah sebenarnya menjadi dasar dari kerangka kerja pembangunan berkelanjutan (sustainable development framework).

Sayangnya meski sudah dikrakkan bersama oleh para pemimpin dunia yang nota bene mewakili anak bangsanya,pekerjaan ini hanya tinggal sebagai retorika penghias bibir,penarik voter,dan penarikan modal,setelah itu semua diperoleh,pekerjaan tak pernah kunjung dilaksanakan secara berkelanjutan.

Hasil studi di Berazil, yang merupakan wilayah pemilik hutan tropis terbesar di Indonesia, menunjukkan bahwa temperatu di daerah aliran sungai (DAS) Amazon, meningkat sampai 8oC, yang secara dramatis mengubah arus dari salah satu sistem air tawar dunia. Jadi, jika kita ingin mengabaikan “kelangkaan air” sebagia tema permanen di abad 21 ini, maka bagian besar dari solusinya adalah kita harus memotong sebesar 60 sampai 80 persen emisi gas rumah kaca (catchment area) perlu dupelihara (bila masih ada) dan dibangun dengan teknologi akrab lingkungan (bila masih ada).

Apa yang terlihat dalam negeri kita sekarang ? luas dearah aliran sungai menjadi semakin sempit hanya merentang dari 1.012 km2 (di Sungai Serdang- Sumatra Utara) hingga hanya 14.175 km2 (di Sungai Pandut, Palangkaraya). Rata-rata bersarnya aliran pun sudah banyak menurun hanya berkisar antara 19.81 m3/detik di Sungai Gambus, Deli Serdang hingga 2.892 m3/detik di Sungai Batanghari.

1 Pemerhati Lingkungan hidup, Alumnus Collage Of Environment Statistics, Wiesbaden-frankfurt, jerman, Kini bekerja di BPS Kalimantan Timur.

Jambi. Volume air di sungai-sungai di negeri tercinta inipun menyusut, kini berkisar antara 521x106 m3di Sungai Bingei, Langkat hingga 91.440x106 m3 di Sungai Batanahari, Jambi. Itu baru volume sebagai air permukaan (surface water), belum belum lagi menyusutnya air tanah dalam di akuifer-akuifer air yang adadi pelbagai pulau yang terus menyusut, baik akibat peralihan fungsi lahan maupun tekanan pembangunan infastruktur fisik yang tidak akrab lingkungan (sound sustainable).

Sementara itu, dari segi senitasi juga memberikan gambaran yang tidak mengenakkan, Di Seluruh Indonesia masi ada 20.24 persen rumahtangga yang mengkonsum air yang itdak higien (mata air dan sumur tak terlindung, air sungai, dsb). Sementara di Kelimantan Timur, propinsi nomor tiga terkaya di Indonesia, ada 30.21 persen rumahtangga yang mengkonsum air dari sumber air minum yang serupa (tidak higien).

Sementara itu, yang mengkonsum air tanah, seperti di ambil dari pompa, sumur, atau matair, 39.31 persen rumahtangga yang mempunyai sumber air yang jaraknya tidak aman (<10)>

Kondisi seperti menurut perhatian kita bersama, baik di tingkat internasional, regional, nasional, maupun local. Dengan cara yang paling sederhana di mula dari diri kita sendiri kita harus menjaga sanitasi lingkungan agar air kita tidak hanya cukup, tetapi juga aman :

1. Jagalah tempat penyipanan air yang tidak merusak / mencemarinya

2. Jauhkan sumbernya dari sumber yang berbahaya / beracun (septic tank dsb)

3. Jagalah air tempat mandi, kolam renang/tempat rekreasi jangan sampai bersentuhan dengan zat yang dapat mengkontaminasi

4. Olah/gunakan kembali/daur ulang limbah padat di rumah anda:

5. Alirkan da buang limbah cair anda ke tempat yang aman, bila anda tidak mempu medaur atau menggunakannya kembali

6. Kumpulkan dan olah limbah industry anda

7. Kelola limbah B3 and (seperti limbah rumah sakit, bahan kimia, beracu, radio aktif, dsb)

8. Pelihara dan jaga daerah tangkapan air di sekitar anda

9. Kurangi penebangan pepohonan yang membahayakan daerah tahanan dan tangkapan air, di daerah hulu sungai

10. Perhatikan betul pembangunan dan pemeliharaan sistem drainage kota(termasuk di kiri-kanan jalan)

11. Atur dengan baik peralihan fungsi lahan, sehingga memperhitungkan jalan air dan ketersediannya

12. Ukur dengan betul dan pantau terus pemakaian air tanah dalam(terutama untuk gedung-gedung bertingkat dan industri), sehingga stoknya terkontrol.

Demikian beberapa langkah sederhana yang paling mungkin kita lakukan dalam waktu dekat ini,agar kondisi tragis yang menghadang dimuka kita,dapat kita antisipasi dengan baik.Semoga kita semua dapat menjadi khalifah yang amanah di bumi yang ALLAH amanatkan kepada kita sekalian.Amin,ya rabbal alamin!!!

Tidak ada komentar: